20 July, 2012

Kisah Uang SERIBU dan SERATUS RIBU

Sama-sama
terbuat dari kertas, sama-sama
dicetak dan
diedarkan oleh dan dari Bank
Indonesia. Pada
saat bersamaan mereka keluar
dan berpisah
dari Bank dan beredar di
masyarakat.
Empat bulan kemudian mereka
bertemu lagi
secara tidak sengaja di dalam
dompet seorang
pemuda. Kemudian diantara
kedua uang
tersebut terjadilah percakapan,
Yang Rp.100.000 bertanya kepada
yang
Rp.1000 "kenapa badan kamu
begitu lusuk,
kotor dan bau amis?"
Dijawablah olehnya "karena aku
begitu keluar
dari Bank langsung ditangan
orang-orang
bawahan, dari tukang becak,
tukang sayur,
penjual ikan dan di tangan
pengemis"
Lalu Rp.1000 bertanya balik pd
Rp.100.000
"kenapa kamu kelihatan begitu
baru, rapi dan
masih bersih?"
Dijawabnya "karena begitu aku
keluar dari
Bank, langsung disambut
perempuan cantik
dan beredarnyapun di restauran
mahal, di mall
dan jg hotel-hotel berbintang
serta
keberadaanku selalu dijaga dan
jarang keluar
dari dompet"
Lalu Rp.1000 bertanya lagi
"pernahkah engkau
mampir di tempat ibadah?"
Dijawablah oleh Rp.100.000
"belum pernah "
Rp.1000. pun berkata lagi
"ketahuilah
walaupun keadaanku seperti ini
adanya, setiap
jum'at aku selalu mampir di
Masjid-Masjid,
Minggu Gereja-Gereja, Vihara,
Klenteng, Pure
dan ditangan anak-anak yatim,
bahkan aku
selalu bersyukur kepada Tuhan
karena aku
tidak dipandang manusia bukan
karena nilai
tapi yang dipandang adalah
sebuah manfaat."
Akhirnya menangislah uang
Rp.100.000 karena
merasa besar, hebat, tinggi tapi
tidak begitu
bermanfaat selama ini.
Jadi bukan seberapa besar
penghasilan Anda,
tapi seberapa bermanfaat
penghasilan Anda
itu. Karena kekayaan bukanlah
untuk
kesombongan.
Semoga kita termasuk golongan
orang-orang
yang selalu mensyukuri nikmat
dan memberi
manfaat untuk semesta alam serta
dijauhkan
dari sifat sombong.